FF: Your Name/part 2 NC(end)

Part 2

YOUR NAME

YANG GAK SUKA NC JANGAN BACA!!!

Author : Billa

Judul   : Your Name

Genre : Romence, NC-17/ 21 *gk bisa nentuin rate* ==’

Cast :  –  Lee Mi Yeon

– Lee Jinki (Onew, Shinee)

-Mi Yeon POV-

Kukecup kening Ji Yeon saat aku berhasil menidurkannya dengan menyusuinya tadi. Kuputuskan untuk membersihkan diriku terlebih dahulu di kamar mandi. Semua beban pikiranku terasa hilang saat air hangat mulai membasahi seluruh tubuhku.

‘Praangg!!’

Tiba-tiba kudengar suara seperti benda pecah. Segera kubilas cepat busa-busa yang masih menempel di tubuhku, lalu kuraih handuk dan melilitkannya dibawah ketiakku. Aku terkejut begitu melihat vas bunga yang tadinya tersimpan rapi di meja riasku sekarang pecah berserakan di lantai. Aku melihat sesuatu diantara pecahan vas bunga itu. Kertas? Bukan, sepertinya ini surat. Segera kubaca tulisan yang tertera disana.

Datanglah ke alamat dibawah ini jika kau ingin anakmu selamat. Dan jangan coba-coba untuk menghubungi polisi, atau sesuatu yang buruk menimpa anakmu.

Tubuhku bergetar begitu selesai membaca surat ini. Terlebih lagi surat ini ditulis dengan cairan kental berwarna merah yang menurutku ini darah. Ji Yeon? Kuberlari menuju box bayinya, dan benar box bayi itu kosong. Oh god! Please save my little angel. *eh,eh, b.inggrisnya bener kga?maklum ane berguru pada junsu XP* Langsung kubuka lemari bajuku dan mengambil asal beberapa pakaian. Kukenakan cardigan ungu dan baju terusan selutut berwarna pink yang kuambil asal tadi.

‘Ji Yeon, tunggu umma sayang.’ Kuraih ponselku untuk menghubungi Jinki. Tapi naasnya hanya nada sibuk yang terdengar.

“Oppa, aku benar-benar membutuhkanmu ..” kataku disela-sela isak tangisku.

>>>

Sekarang aku sudah berada di depan alamat yang tertera dalam surat tadi. Kupandang sesaat pintu di hadapanku saat ini.

“Hotel Love shawol no 1407 *hehe ngasal*. Ya, tidak salah lagi, Ji Yeon pasti ada di dalam sana bersama seseorang. Dengan segenap keberanian kubuka pintu ruangan ini, dan…gelap. Semuanya gelap, aku benar-benar tak bisa melihat apapun. Tapi aku yakin ini alamatnya, dan pasti ada seseorang disini.

“SIAPAPUN KAU! KEMBALIKAN ANAKKU!!” kataku berteriak, kutelan ludahku sebelum akhirnya aku mencoba berjalan perlahan langkah demi langkah dalam ruangan gelap ini.

‘Srreett!’

Sesuatu melintas cepat di belakangku. Aku semakin takut dengan keadaan ini. Apa itu tadi? Hantu? Tuhan, tolong aku! ><

“HEY, JANGAN MAIN-MAIN! TUNJUKKAN DIRIMU BANGSAT!! KEMBALIKAN ANAKKU!!” kubekap mulutku sendiri agar isak tangisku tidak terdengar. Aku  tak tau harus berbuat apalagi, aku takut gelap, aku takut hantu, dan aku benci dengan keadaan di sekelilingku sekarang. Perlahan aku mundur bermaksud mencari tembok untuk bersandar karena aku semakin tak kuat menahan beban tubuhku.

‘KLIK!’

Tidak sengaja aku menekan saklar yg berda di belakangku, otomatis lampu di ruangan ini menyala dan…

“Saengil Chukkae hamnida~ Saengil chukkae hamnida~sarang haneun nae yeoja~ saengil chukkae hamnida~”

Seseorang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku, walaupun batang hidungnya belum terlihat tapi aku kenal sekali pemilik suara ini. Perasaanku lebih tenang sekarang, mungkin karna aku sudah tak merasakan kegelapan lagi. Walau penerangannya sedikit remang-remang tapi ini lebih baik untukku.

“Oppa?” Tak ada sahutan apapun, semuanya hening. Hanya terdengar suara nafasku yg tersengal. Tak ada yang istimewa di ruangan ini. Semua layaknya kamar hotel biasa, hanya saja mungkin ukuran tempat tidurnya yang besar dan memberikan kesan elite pada siapa saja yang melihatnya.

“Oppa aku tau kau disini! Jangan bermain-main lagi, kau pikir ini lucu hah!?” kataku berbicara sendiri. Aku duduk dipinggir tempat tidur king size ini, menunggu orang yang mengerjaiku menunjukkan batang hidungnya.

“Ya oppa, keluarlah! Aku tau kau ada disini!”

Tiba-tiba aku merasakan hembusan nafas seseorang di leherku, aku tau ini adalah keusilan seorang Lee Jinki.

“Oppa apa yang kau- kyaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!” Aku kaget bukan main melihat apa yang tadi di belakangku. Sosok dengan wajah yang sangat menyeramkan yang dipenuhi darah dan rambut panjang hitamnya yang berantakan, belum lagi dua taring yang keluar di kedua sisi mulutnya. *bayangin aja kunti bertaring(emang di korea ada kunti?)* Sontak aku berlari menjauhi sosok tadi. Rasanya sekujur tubuhku mati rasa. Aku duduk tersungkur di pojok ruangan ini, kakiku terasa lemas hingga aku tak kuat untuk berjalan. Aku hanya bisa menangis dan berteriak minta tolong, berharap seseorang datang dan menolongku.

“Bwahahahhahahha!!!”

Tangisan dan teriakanku terhenti begitu mendengar gelak tawa seseorang. Kuberanikan untuk mendongkakkan kepalaku dan terlihatlah sosok menyeramkan tadi tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Kubulatkan mataku saat sosok itu membuka topeng dan rambut palsu yang membuatku hampir mati tadi, dan itu dia! Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah seorang Lee Jinki, namja yang paling aku cintai sekaligus menyebalkan di dunia ini.

“Kau lihat?! Kau lihat tadi!? Ekspresimu sangat lucu jagi!  Whahahahha!” katanya yg masih belum puas menertawaiku.

‘Pletakk!’ *beegitulah kira2 bunyinya, kakinya bertanduk hewan apa namanya..#abaikan*

Sebuah jitakan keras dariku mendarat di kepala Jinki. Ia hanya meringis mendapat perlakuanku.

“Kau! Kau pikir ini lucu hah!?Kau tau, aku hampir mati ketakutan tadi!! Kalau kau tidak cepat tertawa barusan, mungkin aku sudah tak di dunia ini lagi!! Aku benci oppa! Benci!!” makiku sambil memukul-mukul dadanya. Dengan sigap Jinki menahan kedua tanganku dan membawaku kedalam pelukannya. Aku mencoba meberontak tapi sayang pelukannya terlalu erat membuatku tak bisa bergerak sedikit pun. Ia menenggelamkan wajahku di dadanya, mencoba menenagkanku dengan mengelus lembut  rambut dan punggungku.

“Mianhae jagi~ Maaf aku sudah melupakan hari yang penting buatmu. Aku memang egois terlalu mementingkan pekerjaan dibandingkan kau dan Ji Yeon. Aku-“

“Oppa, dimana Ji Yeon?” tanyaku memotong kalimatnya barusan. Aku baru ingat tujuan utamaku ke tempat ini.

“Ji Yeon aku titipkan pada ki bum.” Jawabnya cengengesan.

“ki bum?”

“Ne, kau ingat kan temanku yg bernama key? Nama aslinya itu ki bum. Tenanglah, dia bisa jadi baby sitter yg baik..”

“Aish, kau benar-benar membuatku kesal oppa! Sudah, aku pulang!” Kataku saat pelukannya mulai renggang, sayangnya  Jinki malah mempererrat kembali pelukannya. Mau tak mau aku hanya bisa diam di tempat.

“Tunggu jagi, kaenapa pulang? Kita disini untuk merayakan ulang tahunmu..” jawabnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku sampai hidung kamu bertemu.

“Hah! Ulang tahunku bukan sekarang oppa! Tapi seminggu yang lalu! Dan aku sudah-“ Belum selesai aku bicara, Jinki langsung mengunci mulutku dengan mulutnya. Satu tangannya memegangi tengkukku dan tangan yg lan melingkar sempurna di pinggangku yg ramping. Kututup rapat-rapat bibirku, enak saja! Setelah tadi dia hampir membuatku mati ketakutan, sekarang seenaknya main cium! Kau harus berusaha lebih keras Lee Jinki! ><

-End of Mi Yeon POV-

-Jinki POV-

Kukulum terus bibir yeoja di hadapanku ini. Aku tidak akan menyerah meski ia terus menutup rapat bibir seksinya. Malah ini adalah sebuah tantangan menarik untukku. Kuhempaskan dengan kasar tubuhnya ke tempat tidur. Tanpa melepas ciumanku, tanganku mulai nakal menggerayangi tubuhnya. Aku merasa ada yang aneh dengan pakainannya, hey tunggu! Kenapa dia tak memakai pakaian dalam? Aish, apa yg kupikirkan!? Bukankah ini akan memudahkanku?! Kurasakan pertahanannya mulai roboh, sedikit demi sedikit bibirnya mulai terbuka. Dan begitu kesempatan datang, langsung kujejalkan lidahku ke dalam mulutnya. Menyapu dan menjamah setiap jengkal rongga mulutnya, berusaha tak ada satu titik pun yang terlewati.

“Mmmpphh…mmpphh…oppa hentikan!” pintanya saat aku melepas ciumanku untuk mengunci pintu dan membuka kemejaku beserta kain putih yg kukenakan tadi untuk menakut-nakuti Mi Yeon.

“Jagi, wae kau tak memakai pakaian dalam?” tanyaku sembari mengapit kedua pahanya dengan lututku, dan menaruh kedua tanganku di sisi kepalanya.

“Ya! Kau pikir dengan surat sialan yg kau tulis  aku masih bisa memikirkan hal-hal seperti itu!?” ucapnya galak sedikit membentakku.

Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Ya, memang aku yg memecahkan vas bunga dan menyimpan surat konyol itu. Dan aku juga yg membawa Ji Yeon pergi, tapi segera ku titipkan pada key yg rumahnya tak jauh dari apartemenku, karna aku takut Mi Yeon mendahuluiku sampai ke hotel ini.

“Apa kau liat-liat!?” galaknya saat menyadari aku sedang menatap wajahnya sejak tadi.

“Kau cantik.”

“Gombal.” Ucapnya cuek sambil memiringkan kepalanya menghadap ke arah lain. Namun masih bisa kulihat semburat merah mewarnai pipi mulusnya.

“Kau memang cantik, dan kecantikanmu selalu membuatku  terus menginginkanmu.” Bisikku sexy di telinganya.

Sedetik kemudian aku langsung melumat bibirnya lagi. Tangan mungilnya berusaha mendorong tubuhku, namun segera kutahan dan kuletakkan di atas kepalanya. Kali ini lidahku bisa lebih mudah merogoh semua isi dalam rongga mulutnya. Mi Yeon pun membalas setiap lumatanku dibibirnya. Kedua tangannya yang tadi kutahan kini melingkar sempurna di leherku, menekan leherku seakan memintaku untuk lebih dalam menciumnya. Jangan tanyakan seberapa hotnya lumatan,hisapan, dan kecupan yang kami lakukan sekarang. Asal  tau saja, aku dan Mi Yeon adalah sama-sama pencium yang baik.*masa?*

“Engghh oppa…aasshh…” desahnya saat remasanku di payudaranya yg tak terhalang apapun terlalu kuat. Ya, setelah tadi kulucuti pakaiannya kini ia naked dihadapanku. Keadaanku pun sama sepertinya, tak terhalang sehelai benang pun.

Kujamah setiap inchi lekuk tubuhnya. Tangan kiriku bergerak menelusuri kulit belakangnya, dan berhenti tepat pada bagian bawah punggung.  Kuremas kuat bokongnya yg bulat dan kenyal itu membuatnya menggelinjang geli. Setelah puas, tanganku beralih pada bagian dimana disitulah puncak kenikmatanku akan tercapai. Mi Yeon mengerang keras saat 3 jariku sekaligus mengoyak liang kewanitaannya. Peluh sudah membasahi tubuh kami berdua. Sekarang tak ada lagi erangan kesakitan yang ada hanya desahan,rintihan dan lenguhan kenikmatan yang keluar dari bibirnya.

“uhh…oppaa aku t-tak ta-han..asshh…”

Tangannya semakin menekan lebih dalam kepalaku ke dadanya, menyuruhku untuk mencicipi dua tonjolan daging di puncak dadanya. Dengan penuh nafsu kudaratkan ciumanku bertubi-tubi di payudaranya yg montok itu. Kuhisap ganas satu nipplenya dan sesekali kugigit gemas hingga membuatnya menggelinjang. Ciumanku beralih kembali ke leher mulusnya yang sudah banyak terukir lukisan kemerah-merahan hasil karyaku beberapa menit yang lalu.

“Oppaa..uhh..aku benar-benar tak tahaann…aasshh…” cercaunya dengan suara yang sangat sensual hingga membuat adik kecilku yang sedari tadi sudah menegang tak sabar untuk memasuki ‘surganya’.

“Sabar jagi…sebentar lagi..”

“ouh oppa…ak-ku keluar..aaahhhh….”

Dan bisa kurasakan cairan cintanya membasahi 3 jariku yang masih bersarang di liangnya. Kucabut keluar jariku dan kujilat satu persatu, merasakan cairan cintanya yg terasa manis di lidahku.

“Oppaaa…”rengeknya memintaku agar cepat memasukinya.

“Ne, jagi..aku datang…”

Dengan penuh perasaan*ceileh* kutekan adik kecilku masuk ke liangnya yg sebelumnya sudah kuberi pemanasan dengan jariku. Baru saja bagian kepala yang masuk tapi ia sudah menjerit kesakitan. Mungkin karna dalam seminggu ini kami baru kali ini berhubungan badan lagi. Biasanya aku melakukan hal ‘itu’ dengannya setiap malam atau 2 hari sekali, sehingga liangnya tak sesempit sekarang ini.*dijadwal ceritanya mas?*

Kembali pada apa yang sedang terjadi sekarang. Setengah juniorku sudah berhasil masuk ke liangnya. Kakinya sudah melingkar di pinggangku, membuat aku lebih mudah untuk memasukinya. Namun masih terdengar rintihan kesakitannya yg semakin menjadi, langsung saja kuhisap kembali nipplenya yg sudah agak bengkak itu karna ulahku sebelumnya. Sambil terus menghisap, aku berusaha mendorong juniorku agar bisa tandas seutuhnya di liang sempitnya.

“Aaaahhh oppa…sak-kiiit..ahh..”

Dan..ZEPPH..*?* seluruh juniorku berhasil masuk 100% kedalam liangnya. Kudiamkan sejenak agar miliknya bisa beradaptasi pada ‘benda’ yg kini memasukinya.

“Op-pa gerakkan..”

Sesuai permintaannya. Kugerakkan juniorku in-out di lianganya, pertama kugerakkan dengan hati-hati agar ia tak begitu merasakan sakitnya. Semakin lama genjotanku semakin cepat hingga menciptakan suara deret dari tempat tidur yg berukuran king size ini.

“Op-pa..uhh..hh..aku mau..”

“Ssshh…se-bentar jagi uhh..aku ju-ga mau..ahh..nik-mat asshh…”

Dan pada waktu yang bersamaan cairanku keluar bercampur  dengan cairannya di dalam rahimnya. Nikmat. Selalu saja seperti itu jika melakukan ini dengannya. Setelah kucabut juniorku, kubenahi posisi tidurku menjadi disampingnya. Kukecup lembut keningnya yg penuh dengan keringat karna melakukan ‘aktivitas’ tadi.

“Gomawo jagi..” kataku. Ia merapatkan tubuhnya padaku hingga sama sekali tak ada jarak diantara kami.

“Oppa..”

“Hmm?”

“Ani.” Singkatnya.

“Jagiya, kau memaafkanku?”

“Tentang apa?” ia menatapku bingung.

“Tentang ulang tahunmu.”

“Lupakan masalah itu.”

Kurasakan adik kecilku kembali menegang saat sesuatu membelainya dengan lembut. Aku hanya tersenyum saat tau kalau itu ulah Mi Yeon. Lama-kelamaan belaian lembut itu berubah menjadi remasan yang seketika membuat nafsu birahiku kembali bangkit. Terlebih lagi saat ia mencubit-cubit  gemas twinsballku, aku merem melek dibuatnya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya ingin memberinya perhatian.” Jawabnya tersenyum. Kudekatkan wajahku ke wajahnya.

“Jangan lakukan itu kalau kau tak mau  kesakitan lagi seperti tadi.”

“Memang itu mauku.” Ia tersenyum nakal kali ini.

“Aha?” kataku tak percaya.

“I want you Lee Jinki.” Bisiknya sexy di telingaku. Aku menatap sebentar matanya. Memastikan bahwa ia tak berbohong. Karna aku tak mau jika ia keleahan dan jatuh sakit. Dan see? Tatapan itu menyiratkan bahwa ia benar-benar ingin melakukannya.

“I want you too baby.” Dan kami kembali melakukan aktivitas yang sempat tertunda tadi. Aku bersyukur memilikimu Lee Mi Yeon. Aku janji tak akan membuatmu terluka lagi. Saranghae…

-END-